
Keberagaman bahasa di dunia merupakan salah satu warisan paling berharga yang dimiliki umat manusia. Menurut data Ethnologue terbaru, saat ini terdapat sekitar 7.170 bahasa yang masih digunakan di berbagai belahan bumi. Angka ini mencerminkan kekayaan budaya yang luar biasa, di mana setiap bahasa bukan sekadar alat komunikasi, melainkan pembawa identitas, pengetahuan tradisional, dan pandangan dunia yang unik. Di Indonesia saja, sebagai negara dengan keragaman linguistik tertinggi kedua setelah Papua Nugini, tercatat lebih dari 700 bahasa daerah yang hidup. Bahasa-bahasa ini menjadi jembatan antargenerasi, menyimpan cerita rakyat, resep obat herbal, dan nilai-nilai kearifan lokal yang tak ternilai. Namun, di era globalisasi yang serba cepat, keberagaman ini semakin terancam. Bahasa tidak lagi hanya hilang karena bencana alam atau konflik, melainkan karena tekanan sosial dan ekonomi yang sistematis. Kehilangan satu bahasa berarti kehilangan satu sudut pandang tentang kehidupan, yang pada akhirnya mengurangi kekayaan intelektual umat manusia secara keseluruhan. Oleh karena itu, memahami dinamika keberagaman bahasa menjadi penting bagi kita semua untuk menjaga warisan budaya yang rapuh ini.
Meskipun jumlah bahasa di dunia masih ribuan, realitasnya jauh lebih suram. Sekitar 40 persen di antaranya dikategorikan sebagai bahasa yang terancam punah atau rentan. Setiap dua minggu sekali, satu bahasa punah di dunia ini, dan penutur asli yang tersisa sering kali hanya segelintir orang tua yang tak lagi mampu mentransmisikan pengetahuannya kepada generasi muda. Di Indonesia, Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan Kemdikbud mencatat bahwa 27 bahasa daerah berstatus rentan, 29 mengalami kemunduran, 26 terancam punah, delapan kritis, dan lima sudah punah total. Contoh nyata adalah bahasa-bahasa di Papua atau pulau-pulau terpencil yang semakin tersisih karena migrasi penduduk ke kota besar. Bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional memang menyatukan bangsa, tetapi di sisi lain, ia juga menjadi faktor dominan yang mendorong pergeseran bahasa daerah. Fenomena ini bukan hanya terjadi di negara berkembang; bahkan di Eropa dan Amerika, bahasa asli suku asli seperti Navajo atau Gaelic Irlandia pun mengalami penurunan drastis. Tanpa intervensi cepat, keberagaman linguistik dunia bisa menyusut menjadi hanya ratusan bahasa dominan dalam beberapa generasi mendatang.
Ada beberapa faktor utama yang menyebabkan kepunahan bahasa, dan semuanya saling terkait dengan dinamika masyarakat modern. Pertama, globalisasi dan dominasi bahasa besar seperti Inggris, Mandarin, atau Indonesia membuat orang tua enggan mengajarkan bahasa ibu kepada anak-anaknya demi “kesuksesan” ekonomi dan pendidikan. Kedua, urbanisasi dan migrasi memaksa komunitas kecil beradaptasi dengan bahasa mayoritas di tempat kerja atau sekolah, sehingga transmisi antargenerasi terputus. Ketiga, pengaruh media digital dan teknologi yang hampir seluruhnya berbasis bahasa dominan mempercepat proses ini; anak muda lebih tertarik pada konten TikTok atau YouTube dalam bahasa Inggris daripada mendengar dongeng nenek dalam bahasa daerah. Keempat, faktor ekonomi membuat bahasa daerah dianggap “kurang bergengsi” atau bahkan “kampungan”, sehingga penuturnya merasa inferior secara sosial. Akhirnya, kurangnya dukungan kebijakan pemerintah di tingkat lokal dan nasional memperburuk situasi. Ketika sekolah hanya fokus pada bahasa nasional atau asing, bahasa daerah pun tersingkir dari ruang publik. Semua ini bukanlah proses alami, melainkan hasil pilihan sosial dan politik yang dapat diubah.
Dampak kepunahan bahasa jauh melampaui hilangnya kata-kata semata. Setiap bahasa yang punah membawa serta pengetahuan ekologis, medis, dan filosofis yang tak tergantikan. Misalnya, suku-suku di hutan Amazon atau Papua memiliki kosakata khusus untuk tumbuhan obat yang belum pernah diuji ilmu pengetahuan modern; ketika bahasa mereka hilang, pengetahuan itu ikut lenyap. Selain itu, identitas budaya menjadi rapuh, karena bahasa adalah cermin jiwa suatu bangsa. Anak-anak yang tak lagi fasih berbahasa daerah sering mengalami krisis identitas, merasa terputus dari akar leluhur mereka. Secara global, kehilangan keberagaman linguistik juga mengurangi kreativitas manusia, sebab setiap bahasa menawarkan cara berpikir yang berbeda—dari struktur kalimat yang memengaruhi persepsi waktu hingga metafor yang menggambarkan hubungan manusia dengan alam. Pada akhirnya, dunia yang hanya berbicara dalam segelintir bahasa akan menjadi lebih homogen, kurang toleran terhadap perbedaan, dan lebih rentan terhadap hilangnya inovasi budaya. Kepunahan bahasa bukan sekadar isu linguistik, melainkan krisis kemanusiaan yang mengancam keberlanjutan peradaban kita.
Untungnya, masih ada harapan untuk menyelamatkan bahasa-bahasa yang terancam melalui upaya kolektif yang terstruktur. Pertama, pendidikan berbasis bahasa ibu harus diintegrasikan ke dalam kurikulum sekolah dasar, seperti program revitalisasi yang telah sukses di Selandia Baru dengan bahasa Maori. Kedua, dokumentasi digital melalui aplikasi kamus, rekaman cerita lisan, dan platform AI seperti Grok atau Duolingo dapat melestarikan bahasa secara masif dan murah. Ketiga, komunitas lokal perlu diberdayakan dengan festival bahasa, lagu daerah di media sosial, dan insentif ekonomi bagi penutur muda yang aktif menggunakan bahasa ibu. Keempat, pemerintah dan lembaga internasional seperti UNESCO harus menyediakan dana khusus serta kebijakan yang mewajibkan penggunaan bahasa daerah di ruang publik dan media. Di Indonesia, Badan Bahasa telah melakukan berbagai inisiatif, tetapi perlu diperluas hingga ke desa-desa terpencil. Yang terpenting, kesadaran masyarakat—terutama generasi muda—harus dibangun agar mereka bangga menjadi penjaga bahasa leluhur. Dengan kombinasi teknologi, pendidikan, dan komitmen politik, kita masih bisa membalikkan tren kepunahan ini. Keberagaman bahasa bukan hanya masa lalu, melainkan kunci masa depan yang lebih kaya dan inklusif. Mari kita bertindak sekarang, sebelum terlambat.
#ragambahasa
#bahasaindonesia
#bahasa
#ikahentihu









